Sudah hampir setahun blog ini tak pernah kutengok. Awalnya hasrat yang menggebu untuk selalu mendokumentasikan setiap detik hidup dan perubahan dalam hidup ini. Tetapi itu hanya semangat awal saja, selanjutnya surut...surut dan surut....yang akhirnya padam dan tak pernah kubuka. Semangat yang angin-anginan ini disebut "Obor blarak" kalo orang jawa bilang. Obor kita semua tahu yang artinya suluh, penerang dalam kegelapan. Adapun blarak, saya yakin tidak semua orang tahu. Blarak adalah nama daun kelapa yang sudah kering dalam bahasa jawa. Blarak sering digunakan untuk kayu bakar ketika simbok saya dulu ketika akan memasak di tungku api. Fungsi blarak dalam dunia memasak api tungku, karena sifatnya yg mudah terbakar maka ia hanyalah sebagai pemicu atau "triger" agar kayu sebagai bahan bakar utama dapat terbakar. Sebab kalau kayu keras langsung di bakar dengan korek api, bisa-bisa batang korek api satu dus habis, tapi kayu bakar tidak terbakar juga. Nah, kembali ke blarak tersebut. Meskipun si blarak ini mudah terbakar, ia ternyata tidak bertahan lama. Ia menghasilkan api yang besar dan panas namun hanya sesaat setelah seluruh komponen kayu habis dilalap api menjadi abu arang lalu padam. Karena sifatnya yang demikian itu, maka orang jawa sering menganalogikan, orang yang memiliki semangat membara di awal kegiatan lalu mati padam sebelum kegiatan selesai itu ibarat nyala api dari blarak itu.
Nah, kalo dalam kehidupan kita sehari-hari seharusnya semangat kita tidak boleh seperti itu. Semangat kita dalam mengawali kerja menjemput rizki yang telah ditebarkan Alllah dimuka bumi ini, harus tetap kita pertahankan dari awal sampai akhir pekerjaan tersebut. Pun demikian dalam kegiatan peribadatan kita. jangan hanya semangat beribadah ketika kita baru selesai mendapatkan ceramah dari seorang kiai, tetapi setelah itu kita kembali ke jalan sesat. Semoga Allah swt menghindarkan kita dari semangat membara "obor blarak" tersebut dalam kehidupan kita sehari-hari. Wassalam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar