Rabu, 23 April 2014

ANGGERA MATI

Setelah melalui proses perawatan yang melelahkan selama 5 hari, akhirnya Enggera menjemput ajalnya.

Selasa, 15 April 2014

"ANGGERA" LAKA LANTAS LUKA PARAH

Si Pillow kucing hitam kembang benguk kesayangan anakku 4 bulan yang lalu beranak 3 ekor. 2 betina 1 jantan. Oleh Putri anak bungsuku diberi nama Anggera, Tmm dan Jerry. Jerry hilang sebulan yang lalu ketika di minggu pagi menguntit Putri dan mertuaku jalan pagi keliling kompleks dan tersesat tidak pulang sampai sekarang. 2 minggu kemudian, si Tom ditemukan mati di garasi mobil dalam kondisi terbujur kaku dan sudah dikerubuti semut. Saya tidak tau apa penyebab kematian Tom, hari itu juga saya kubur dibelakang rumah. Tinggallah si Anggera ini sendiri. Bulunya tebal seperti neneknya. Dan ia sangat lulut sekali denganku. Setiap saya di rumah, kemanapun saya beranjak, ia selalu mengikuti. Ketika saya memberi pakan ikan, ia juga nguntit dan tiduran di sampingku.  Konon menurut silsilah, nenek Anggera adalah kucing Anggora yang bulunya tebal. Si Pillow , ibu dari Anggera ini tampilannya kayak kucing kampung, dikawini Bagong, kucingnya Pakde Nur, yang masih kakak kandungnya Pillow ( dasar kucing... adiknya diembat juga).

Kemarin sore, ketika aku ke masjid, Anggera menguntitku tapi seperti biasa saya "usir" untuk pulang tp bukannya kembali ke rumah, ia malah lari menyeberang jalan ke rumah tetangga. Pikirku nanti juga ia pulang seperti biasanya. Atau menungguiku di dekat bak sampah komplek samping rumahku. Selesai magrib, aku pulang , pas di dekat bak sampah, ada mobil avanza putih yang jalan perlahan pulang dari masjid juga. Tapi tiba2 ia mengerem mendadak. Saya kira kenapa, rupanya dari kolong mobil, ada berlari kucing kecil yang tertabrak mobil tersebut. Saya cek ternyata Anggera. Ataggfirullah hal'adziiim.... Kondisinya sangat mengenaskan. Kaki belakang remuk semua dan tulang patah dengan daging yang terkelupas. Anggera mengeong-ngeong kesakitan. Ketika saya coba untuk angkat dengan memegang tengkuknya, justru ia menggigit jari telunjukku. Panik rasanya melihat kucing kesayangan terluka parah seperti itu. Sesampai di rumah, istriku juga panik. Meskipun ia dokter, tapi ia dokter manusia. Menghadapi pasien manusia ia bisa bersikap tenang, tapi menghadapi pasien hewan, ternyata ia saja denganku. oleh istriku dikasih minum air putih dan  dia coba mengobati semampunya. untuk mengurangi rasa sakit diberi anti nyeri punya anakku (maklum dokter manusia,sediaan obat dikotak obat utk manusia semua), harapan kami untuk sedikit meringankan beban nyeri yang dideritanya. Ditengah kepanikan,  Aku mencoba menghubungi rekan-rekan sesama penggemar kucing dimana ada dokter hewan praktik jam segitu. Ternyata semua yang kuhubungi per telfon menyarankan ke Pamularsih... Aduuh jauh amat.  Akhirnya aku mencoba tanya ke Bude Nur, katanya di daerah Kagok depan toko Tonghien ada dokter hewan disana. Aku coba cek dulu ke sana dengan menggunakan motor. Khawatir kalo ternyata klinik tidak buka. Alhamdulillah, ternyata masih buka. Ada 4 pasien menunggu diobati dokter. Di ruang praktek, dokternya ga ada, kata ibu yang juga menunggu giliran, dokter sedang mengambil obat utk anjingnya. 5 menit menunggu dokter itu muncul terasa 5 minggu... Oh... akhirnya muncul juga bu dokter. Saya tanya bisa ga nangani kucing yang terluka parah. Bisa katanya. akhirnya tanpa babibu aku langsung balik kanan mengambil Anggera. Sampai di rumah, kami bingung mau pake apa membawa Anggera ke dokter. mau pake mobil, gang menuju klinik sempit sekali, mobil tidak bisa papasan.  Akhirnya diputuskan pake motor. Tapi dengan alat apa membawa kucing yang terluka itu. Awalnya atas saran istri pake bakul aja, tapi ketika kucoba masukkan bakul, Anggera meronta-ronta ketakutan. Akhirnya aku terpaksa menggunakan kandang burung, dan istriku yang memegangi. Saya tidak peduli lagi dengan orang-orang di kompleks yang keheranan melihat kami petang-petang membawa kandang burung berisi kucing.
Singkat cerita sampailah kami di klinik hewan. Dokternya kaget setelah melihat luka Anggera yang sangat parah. Dokter memasang tem didubur anggera. Angka digital muncul 37,5 derajad celsius.  Karena meronta-ronta kesakitan dan ketakutan dengan wajah dokter yang baru dikenalnya, dokter bilang perlu dibius untuk membersihkan luka dan mengambil tindakan. Setelah dibius,oleh dokter diminta untuk ditinggal dulu, karena lukanya sangat parah. Ia akan mengabariku esok pagi. Aku dan istri cuma bisa pasrah melihat kondisi Anggera. Pagi ini, ketika aku menulis cerita ini dokter itu blm mengabariku, istriku pun sms menanyakan janji sang dokter. Aku positif tihinking  aja, mungkin Anggera sedang perlu perawatan intensif dari dokter. Semoga Anggera diberi kesembuhan dan dipulihkan seperti sedia kala.. Tapi kalo Allah swt berkehendak lain. Semoga Anggera  segera dibebaskan dari penderitaannya... Tidak tega rasanya melihat penderitaan binatang sekecil itu.

Minggu, 13 April 2014

OBOR BLARAK

Sudah hampir setahun blog ini tak pernah kutengok. Awalnya hasrat yang menggebu untuk selalu mendokumentasikan setiap detik hidup dan perubahan dalam hidup ini. Tetapi itu hanya semangat awal saja, selanjutnya surut...surut dan surut....yang akhirnya padam dan tak pernah kubuka. Semangat yang angin-anginan ini disebut "Obor blarak" kalo orang jawa bilang. Obor kita semua tahu yang artinya suluh, penerang dalam kegelapan. Adapun blarak, saya yakin tidak semua orang tahu.  Blarak adalah nama daun kelapa yang sudah kering dalam bahasa jawa. Blarak sering digunakan untuk kayu bakar ketika simbok saya dulu ketika akan memasak di tungku api. Fungsi blarak dalam dunia memasak api tungku, karena sifatnya yg mudah terbakar maka ia hanyalah sebagai pemicu atau "triger" agar kayu sebagai bahan bakar utama dapat terbakar. Sebab kalau kayu keras langsung di bakar dengan korek api, bisa-bisa batang korek api satu dus habis, tapi kayu bakar tidak terbakar juga. Nah, kembali ke  blarak tersebut. Meskipun si blarak ini mudah terbakar, ia ternyata tidak bertahan lama. Ia menghasilkan api yang besar dan panas namun hanya sesaat setelah seluruh komponen kayu habis dilalap api menjadi abu arang lalu padam. Karena sifatnya yang demikian itu, maka orang jawa sering menganalogikan, orang yang memiliki semangat membara di awal kegiatan lalu mati padam sebelum kegiatan selesai itu ibarat nyala api dari blarak itu.
Nah, kalo dalam kehidupan kita sehari-hari seharusnya semangat kita tidak boleh seperti itu. Semangat kita dalam mengawali kerja menjemput rizki yang telah ditebarkan Alllah dimuka bumi ini, harus tetap kita pertahankan dari awal sampai akhir pekerjaan tersebut. Pun demikian dalam kegiatan peribadatan kita. jangan hanya semangat beribadah ketika kita baru selesai mendapatkan ceramah dari seorang kiai, tetapi setelah itu kita kembali ke jalan sesat. Semoga Allah swt menghindarkan kita dari semangat membara "obor blarak" tersebut dalam kehidupan kita sehari-hari. Wassalam.